6 Alasan Prospek Bisnis Properti Selalu Cerah

Posted on | Jumat, 13 Oktober 2017 | No Comments


foto hanya ilustrasi

 Optimisme pasar properti kian meningkat tiap tahunnya, terutama hunian berupa rumah yang menjadi kebutuhan pokok selain makanan dan pakaian, contohnya rumah landscape. Meski apartemen sudah menjamur, rumah ini tetap menjadi incaran utama banyak masyarakat kelas menengah ke bawah. Informasi tentang jual rumah Jakarta pun banyak dicari, dari yang termurah hingga termahal.
Prospek yang selalu cerah ini membuat banyak investor pemain lama (profesional) maupun baru (amatir) berloba-lomba mencari developer handal untuk diajak bersinergi merancang kesuksesan di bisnis ini. Lantas apa sebenarnya yang membuat bisnis properti menjanjikan dan berprospek cerah? Berikut penjelasannya.

1.                  Kebutuhan Pokok Masyarakat
Sepeti halnya pakaian dan makanan, properti menjadi kebutuhan pokok manusia, yang apabila tidak dipenuhi maka akan timbul berbagai permasalahan seperti kriminalitas dan kesehatan. Fungsi rumah yang meliputi tempat tinggal, berlindung melepas lelah, bekerja, berkumpul dengan keluarga, serta serta aktivitas lainnya ini akan menjadi masalah jika tidak dimiliki.
Menjadikan properti sebagai kebutuhan pokok ini membuat bisnis properti berupa rumah senantiasa tumbuh subur di tengah masyarakat. Bisnis ini pula yang selalu dibutuhkan sehingga menjanjikan keuntungan besar.
Pintu bisnis properti masih terbuka lebar bagi developer maupun investor. Hal ini dapat dianggap sebagai angin segar bagi bisnis properti untuk terus berkembang dan meningkatkan produksi serta keuntungan dari properti rumah, terutama pelaku bisnis jual rumah di Jakarta.

2.                  Kesenjangan supply dan demand
Kebutuhan manusia terhadap rumah untuk dijadikan tempat tinggal permintaan terhadap properti ini kian naik, apalagi dengan jumlah sumber daya manusia Indonesia yang menginjak peringkat ke-4 di dunia. Jumlah penduduk yang sangat banyak inilah yang menjadikannya salah satu faktor penyebab bisnis properti di tanah air senantiasa menawarkan keuntungan yang tidak sedikit.
Jumlah penduduk selalu berbanding lurus dengan tingginya permintaan masyarakat Indonensia terhadap berbagai jenis properti, dari tanah, rumah, ruko, rukan, apartmen, rumah susun, dan produk properti lainnya.
Nah kebutuhan masyarakat terhadap tempat tinggal yang kian bertambah dari tahun ke tahun namun tak diimbangi dengan penambahan supply tanah di bumi inlah yang memposisikan bisnis propeti dalam hukum supply and demand. Situasi ini membuat harga-harga properti dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan.

3.                  Populasi Meningkat
Angka pertumbuhan penduduk di Indonesia cukup tinggi dan ledakannya juga memiliki sisi positif karena membuka peluang seluas-luasnya bagi bisnis properti. Sebab jumlah penduduk yang terus meningkat tentu mendorong permintaan terhadap properti sebagai pemenuhan kebutuhan juga akan terus meningkat.
Ketika Anda memutuskan untuk berkeluarga dan membutuhkan properti berupa rumah tempat tinggal, maka dari sinilah properti kembali dibutuhkan oleh keluarga baru. Selain itu, ketika Anda ingin hendak membuka usaha, maka hal terpenting yang perlu dipenuhi adalah properti untuk tempat usaha berupa ruko, rukan, ataupun bangunan-bangunan lainnya.

4.                  Faktor Inflasi
Inflasi ini terjadi tiap tahun meski dengan persentase yang berbeda-beda. Meski demikian, keberadaannya tetap mempengaruhi sektor-sektor lain seperti harga kebutuhan pokok, bahan bakar, tingkat suku bunga, percepatan kredit pinjaman, tak terkecuali harga properti.
Kenaikan harga properti berimplikasi pada bahan dasar bangunannya, seperti harga pasir, semen, batu bata, kayu, cat, dan lainnya. Akumulasi dari kenaikan harga-harga bahan dasar bangunan itu ikut menaikkan harga properti setiap tahun. Karena itulah developer tidak pernah takut rugi menaikkan harga sesuai inflasi yang terjadi.

5.                  Pertumbuhan Kelas Menengah
Setiap negara, terutama negara berkembang sedang giat-giatnya membangun. Hasil dari pembangunan itu adalah meningkatnya jumlah populasi kelas menengah. Ciri-ciri mereka yaitu rata-rata mempunyai pendidikan yang baik dan penghasilan yang stabil. Pasar paling potensial investasi properti adalah pasangan suami istri yang memiliki penghasilan stabil.
Seperti halnya memanfaatkan turunnya suku bunga dan tumbuhnya properti-properti baru yang kian menarik, maka emakin meningkat jumlah kelas menengah di perkotaan maupun di pedesaan kebutuhan properti pun meningkat.

6.                  Menyokong Pembangunan Daerah
Modernisasi serta industrialisasi yang terjadi di banyak daerah menuntut adanya pembangunan di berbagai sektor termasuk pada sektor properti untuk industri dan lapangan kerja, maka sangat wajar jika pembangunan properti mendapat tanggapan baik. Pembangunan properti di berbagai daerah yang baru berkembang seperti di kota-kota kecil, kabupaten, hingga kecamatan yang tengah berbenah sangat dibutuhkan.
Properti secara umum dibagi menjadi 2, yakni properti residensial (hunian) dan properti komersial (sarana bisnis). Berkembangnya sektor industri di suatu wilayah, akan meningkatkan kebutuhan properti komersial yang kemudian akan menaikkan jumlah tenaga kerja yang diberdayakan. Harga-harga properti pun akan melonjak sesuai permintaan, termasuk properti residensial berupa rumah.
Sejauh ini, rata-rata harga rumah di Jakarta sudah di atas Rp 400 juta. Bahkan di DKI Jakarta kini tidak ada lagi yang harganya Rp 300-400 juta. Harga minimal tersebut tentu untuk rumah sederhana. Sedangkan untuk harga yang sama, Anda akan memperoleh rumah elegan dengan fasilitas dan kondisi fisik yang lebih baik jika berada di pinggir kota atau kota-kota kecil lainnya.

Nah, sudah jelas bukan kenapa bisnis properti ini termasuk dalam kategori bisnis yang tiada matinya hingga menyerupai investasi dalam bentuk emas? Karena itulah prospek bisnis properti, terutama hunian di Jakarta ini kian cerah. Bagi Anda yang masih berusaha merangkak di dunia bisnis ini dengan jual rumah Jakarta, selamat berbisnis dan raih prospek cerah Anda bersama rekan Anda!

Comments

Leave a Reply